Hai, namaku Satya. Aku ingin bercerita tentang hidupku saat ini, hidup yang menurutku sangat tidak masuk akal namun diakui sebagai kebenaran. Aku bekerja di Kantor Pencatatan Hak Cipta, tugasku setiap hari adalah mengeluarkan surat paten atas sesuatu hal, apapun itu. Kau bisa mematenkan suaramu, gaya bicaramu, wajahmu, bahkan namamu. Jadi jika suatu saat kau menemukan orang yang mirip denganmu atau memiliki nama yang sama denganmu, kau bisa menuntutnya dan mendapatkan uang ganti rugi darinya.
Terdengar aneh memang, namun itulah dunia yang kutinggali saat ini, dunia yang telah memasuki babak barunya dan mencoba menggilas ingatan masa lalu tentang ketidakberaturan sistem. Aku sendiri telah mematenkan semua hal tentang diriku, mulai dari gaya bicaraku, bagaimana bunyi dengkuranku saat tidur, sampai namaku yang belakangan kuketahui sebagai nama seorang penulis ternama di dunia lama berpuluh tahun yang lalu, Lentera Satya.
Apa menurutmu aku suka dengan semua ini? Tentu saja aku muak, tapi tak ada pilihan lain bagiku. Hidup dengan cara seperti ini atau mati. Oh, tunggu! Matipun tak bisa menyelesaikan masalah begitu saja, keluargamu harus mematenkan dulu cara pemakamanmu atau kau akan membuat mereka bangkrut karena tuntutan seseorang yang telah lebih dulu mematenkan cara pemakaman yang sama. Pilihannya adalah, membayar royalti pada orang yang ingin kau tiru cara pemakamannya-dan itu seharga dua buah rumah-, membuat cara pemakaman sendiri yang belum pernaha ada kemudian mematenkannya-seharga dua puluh rumah-, atau nekat menggunakan cara pemakaman orang lain tanpa izin-dengan denda senilai harga seratus rumah-. Pilihan yang tak mudah bukan?
Untuk orang-orang sepertiku, masalah-masalah seperti itu sangat mudah untuk diatasi, karena akulah yang menentukan suatu hak cipta. Aku dapat seenaknya mengganti suatu hak cipta atas nama orang lain dengan namaku jika perlu, dan orang itu tinggal memilih: diam dan menerima atau melawanku dan justru kutuntut balik-dapat kupastikan dia kalah dalam persidangan jika lawannya adalah aku-.
Kau pasti bertanya-tanya, sejak kapan dunia jadi seperti ini? Aku pun tak tahu pasti, tapi aku tahu dulunya dunia tak sepert ini. Suatu hari aku menemukan buku harian tua di gudang rumahku, ternyata itu milik orang dari dunia lama yang dulunya tinggal di rumah ini. Dari buku itu aku mengetahui banyak hal, betapa dunia lama merupakan tempat yang nyaman bagi kebebasan. Si Nenek-demikian aku menyebut pemilik buku itu-, menggambarkan dengan jelas bagaimana dunianya pada saat itu. Pada halaman-halaman awal bukunya, ia bercerita tentang bagaimana kekasihnya mencoba merayunya dengan seikat bunga-cara jamak yang dilakukan para lelaki di zaman itu-, kemudian bagaimana ia begitu menyukai seorang pemain film sampai-sampai model rambut dan pakaiannya selalu sama dengan pemain film tersebut. Semua itu ia lakukan dengan bebas, tanpa beban. Aku membayangkan jika Si Nenek hidup di zaman sekarang, ia pasti akan bangkrut atau mendekam dalam penjara!
Membaca seluruh tulisan di buku itu membuatku berpikir betapa baik hatinya orang-orang dunia lama, mereka tak pernah mempermasalahkan tentang hak cipta. Justru mereka sangat suka berbagi dengan orang lain. Hmm… lalu apa yang membuat dunia menjadi begitu berubah? Aku tak tau pasti. Tulisan Si Nenek tidak sampai menceritakan bagaimana perubahan ini bisa terjadi, hanya ada satu buah tulisan terakhir yang aku sungguh tak paham maksudnya, tulisan yang ditulis sekitar tujuh puluh tahun silam…
15 Agustus 2038
Ah, aku ingin pergi saja dari dunia ini, aku berharap ada yang merubah kekacauan ini! Mengapa mereka seenaknya saja mengaku-ngaku! Dan yang lebih konyol adalah negara penguasa jagad raya itu! Atas dasar apa ia memihak dan menyetujui semua klaim yang ada, bahkan secara internasional! Hanya karena mereka memiliki banyak uang untuk menyuapi mereka??! Apa tak ada yang bisa mereka pikirkan selain uang dan paham kapitalisme yang mereka banggakan??
Darahku sungguh mendidih sekarang! Sekian lama bangsaku bersabar dan memaklumi mereka, namun mereka justru menusuk dari belakang! Ah, andai saja suamiku masih hidup, ia pasti tak akan tinggal diam.
Melihat semua kekacauan yang ada, sepertinya bangsa kami memutuskan untuk berperang. Ya! Berperang secara fisik, mempertaruhkan nyawa. Setelah itu entah apa yang akan terjadi, semoga dunia ini menjadi lebih baik…
Membaca kalimat demi kalimat tulisan tersebut sungguh membuatku bingung. Perang? Perang apa? Mengapa aku tak pernah mendengar cerita tentang perang di masa lalu? Ataukah mungkin perang itu memang tak pernah terjadi? Kepalaku selalu pusing memikirkan maksud dari tulisan Si Nenek.
Namun tak dapat aku pungkiri bahwa selama ini aku merasakan keganjilan pada sistem di dunia ini, entah apa. Yang aku tahu, ini merupakan sistem terbusuk yang pernah ada, bagaimana mungkin tetanggamu bisa seenaknya saja mengklaim cara menguapmu sebagai cara menguap miliknya hanya karena ia lebih dulu mematenkannya? Sungguh konyol! Yang lebih konyol lagi, akulah orang yang setiap hari mengeluarkan surat paten atas sesuatu, akulah orang yang memiliki kewenangan mutlak atas hak cipta orang lain dan aku muak dengan pekerjaanku ini. Namun inilah kehidupan sekarang, justru pemikiranku yang hendak melawan arus inilah yang sering dikatakan konyol oleh orang-orang.
Ah, sudahlah. Sepertinya aku memang tak memiliki cukup banyak kekuatan untuk mengubah dunia. Aku tak punya pilihan selain menjalani hidupku di dunia yang aneh ini, dunia yang mengutamakan uang sebagai komoditas utama dirimu, dunia yang lebih memihak pada kebenaran yuridis daripada kenyataan yang sesungguhnya, dunia yang dikendalikan oleh selembar kertas hukum bernama hak paten. Dunia tanpa kebebasan.
Ups! Sepertinya aku harus segera pergi ke kantor, apalagi aku baru saja menemukan cara meludah yang baru-dan tentu saja harus segera kupatenkan!-. Maafkan aku Nenek, tapi sepertinya bukan dunia seperti inilah yang kau harapkan sebagai dunia yang lebih baik. Namun saat ini aku hanya bisa berjalan mengikuti arus konyol dunia, karena aku juga butuh uang dan aku masih memilih hidup daripada mati. Walaupun sebenarnya aku sangat muak dan ingin mengubah segalanya, tapi…. ah! Lupakan saja… Karena dunia lama dan dunia baru memang telah jauh berbeda, saat ini yang utama adalah uang, bukan kebebasan. Semoga kau dapat memaafkanku, Nek. (Saila Rezcan)
Yogyakarta, September 2009



Menarik, menggambarkan bagaimana sifat individualisme manusia saat ini sudah semakin ‘liar’ adanya. Segala hal bisa diubah menjadi komoditas, dan menghasilkan uang untuk bertahan hidup.
Keindahan yang menggigit, kapitalisme sempurna. Saya penasaran apa yang akan terjadi jika cerita ini berlanjut.
Menarik.